Senin, 25 Agustus 2014

Kajian Singkat Tentang MANTRA


KAJIAN SINGKAT TENTANG MANTRA
Oleh :I Wayan Sudarma (Shri Danu D.P)

Om Swastyastu
“Om sahana vavatu sahana bhunaktu,
Saha viryam karavavahai,
Tejasvināvaditham āstu mā vidviā vahai”.

Ya Tuhan semoga kami dapat belajar bersama, berkembang bersama, memperoleh pengetahuan bersama. Semoga tidak terjadi suatu kesalahpahaman di antara kami. Dan apabila terjadi sesuatu kesalahan secara sengaja atau tidak sengaja, semoga kami dapat saling memaafkan.

A.     Pendahuluan
Dalam melaksanakan puja bhakti kepada Brahman, umat Hindu  diberikan kebebasan untuk dapat mewujudkan bentuk Śraddhā tersebut. Secara umum bentuk Bhakti  umat Hindu dapat dilakukan dengan menggunakan: mantra, yantra, tantra, yajña, dan yoga. Mantra adalah doa-doa yang harus diucapkan oleh umat kebanyakan, pinandita, pandita sesuai dengan tingkatannya. Yantra adalah alat atau simbol-simbol keagamaan yang diyakini mempunyai kekuatan spiritual untuk meningkatkan kesucian. Tantra adalah kekuatan suci dalam diri yang dibangkitkan dengan cara-cara yang ditetapkan dalam kitab suci. Yajña yaitu pengabdia yang ulus ikhlas atas dasar kesadaran untuk dipersembahkan sehingga dapat meningkatkan kesucian. Dan Yoga artinya mengendalikan gelombang-gelombang pikiran dalam alam pikiran untuk dapat berhubungan dengan Tuhan, yang dapat dilakukan melalui Astangga Yoga (yama, niyama, asana, pranayama, prathyahara, dharana, dhyana, dan samadhi) (Bhagavan Shri Sathya Sai Baba, 1995: 12).
————-
*   Disampaikan pada acara pembinaan SDM Hindu Karyawan PT. Indosat Tbk. Purwakarta, 13-15 Pebruari 2007
**  Penyuluh Agama Hindu Kota Bekasi
————-




B.     Mantra

Berkaitan dengan pengucapan Mantra, apakah mantra itu?. Mantra berasal dari suku kata Man (Manana) dan kata Tra (Trana) yang berarti pembebasan dari ikatan samsara atau dunia phenomena ini. Dari kombinasi Man dan Tra itulah disebut mantra yang berarti dapat memanggil datang (Amantrana). Mantra merupakan sebuah kata atau kombinasi beberapa buah kata yang sangat kuat atau ampuh, yang didengar oleh orang bijak dan yang dapat membawa seseorang yang mengucapkannya melintasi lautan kelahiran kembali, inilah yang merupakan arti mantra yang tertingi. Arti mantra yang lebih rendah adalah rumusan gaib untuk melepaskan berbagai kesulitan atau untuk memenuhi bermacam-macam keinginan duniawi, tergantung dari motif pengucapan mantra tersebut. Mantra adalah sebuah kekuatan kata yang dapat dipergunakan untuk mewujudkan keinginan spiritual atau keinginan material, yang dapat dipergunakan demi kesejahteraan ataupun penghancuran diri seseorang. Mantra seperti energi atom yaitu suatu  tenaga yang bertindak sesuai dengan rasa bhakti seseorang yang mempergunakannya. Sabda adalah Brahman, karena itu ya menjadi penyebab Brāhmanda manifestasi chit sakti itu sendiri seperti yang disebutkan dalam Vishvasara Tantra, yaitu ”Parabrahman itu sebagai sabda Brahman yang substansinya semua adalah mantra, dan yang berada di dalam wujud jivātma”. Bentuk itu sebagian tidak beraksara (Dhvani), sebagian lagi beraksara (Varna). Yang tidak beraksara itulah yang memunculkan yang beraksara, dan itulah aspek yang halus dari Śākti yang menghidupkan jiwa itu (Svami Rama: 1984: 24).

Sedangkan  Prapancha Sara mengatakan bahwa: ’ Brāhmanda diresapi oleh sakti, yang terdiri atas Dhvani, yang juga disebut Nada, Prana, dan sebagainya”. Manifestasi dari Sabda menjadi wujud kasar (Sthūla) itu tidak bisa terjadi terkecuali Sabda itu ada dalam wujud halus (Suksma). Dari penjelasan tersebut, dapata dipahami bahwa Mantra merupakan aspek dari Brahman dan seluruh manfestasi Kulakundalini. Secara filosofis sabda itu adalah guna dari Akasa atau ruang ethernal. Tetapi sabda itu bukan produksi Akasa. Sabda memanifestasikan diri di dalam Akasa. Sabda itu adalah Brahman, seperti halnya di antariksa, gelombang bunyi dihasilkan oleh gerakan-gerakan udara (Vāyu); karena itu di dalam rongga jiwa atau di rongga tubuh yang menyelubungi jiwa gelombang bunyi dihasilkan sesuai dengan gerakan-gerakan Praa vāyu dan preses menarik napas dan mengeluarkan napas.

Mantra disusun dengan menggunakan akara-akara tertentu, diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu bentuk bunyi, sdangkan huruf-huruf itu sebagai perlambang-perlambang dari bunyi tersebut. Untuk menghasilkan pengaruh yang dikehendaki, mantra harus disuarakan dengan cara yang tepat, sesuai dengan svara (ritme) dan varna (bunyi). Huruf-huruf penyusunannya pada dasarnya ialah mantra sastra, karena itu dikatakan sebagai perwujudan Śastra dan Tantra yang terdiri atas Mantra adalah Paramātma., Veda sebagai Jivātma, Dharsana sebagai indriya, Puraa sebagai jasad, dan Smti sebagai anggota. Karena itu Tantra merupakan Śākti dan kesadaran, yang terdiri atas mantra. Mantra tidak sama dengan doa-doa atau kata-kata untuk menasehati diri (Ātmanivedana).

Dalam Nitya Tantra, disebutkan berbagai nama terhadap mantra menurut jumlah suku katanya. Mantra yang terdiri dari satu suku kata disebut Pinda. Mantra tiga suku kata disebut Kartari, yang terdiri dari empat suku kata smpai sembilan suku kata disebut Vija Mantra, sepuluh sampai duapuluh suku kata disebut Mantra, dan yang terdiri lebih dari duapuluh suku kata disebut Mālā. Tetapi istilah Vija  juga diberikan kepada mantra yang bersuku kata tunggal.


C.     Jenis-jenis Mantra

Berdasarkan sumbernya mantra ada bermacam-macam jenis yang secara garis besar dapat dipisahkan menjadi; Vedik mantra, Tantrika mantra, dan Puraik mantra. Sedangkan berdasarkan sifatnya mantra dapat terbagi menjadi; Śāttvika mantra (mantra yang diucapkan guna untuk pencerahan, sinar, kebijaksanaan, kasih sayang Tuhan tertinggi, cinta kasih dan perwujudan Tuhan), Rājasika mantra (mantra yang diucapkan guna kemakmuran duniawi serta kesejahteraan anak-cucu), Tāmasika mantra (mantra yang diucapkan guna mendamaikan roh-roh jahat, untuk menghancurkan atau menyengsarakan orang lain, ataupun perbuatan-perbuatan kejam lainnya/Vama marga/Ilmu Hitam). Disamping itu mantra juga dapat dibagi menjadi:
1.      Mantra: yang berupa sebuah daya pemikiran yang diberikan dalam bentuk beberapa suku kata atau kata, guna keperluan meditasi dari seorang guru (Mantra Diksa).
2.      Stotra: doa-doa kepada para devata, Stotra ada yang bersifat umum, yaitu; yang dipergunakan untuk kepentingan umum yang harus datang dari Tuhan sesuai dengan kehendakNya, misalnya doa-doa yang diucapkan oleh para rohaniawan ketika memimpin persembahyangan, sedangkan Stotra yang bersifat khusus adalah doa-doa dari seoarang pribadi kepada Tuhan untuk memenuhi beberapa keinginan khususnya, misalnya doa memohon anak, dan sebagainya.
3.      Kāvaca Mantra: mantra yang dipergunakan untuk benteng atau perlindungan dari berbagai rintangan.
Dalam kitab Nirukta Vedangga, mantra dapat dibagi menjadi 3 sesuai dengan tingkat kesukarannya, yaitu:
1.      Paroksa Mantra, yaitu mantra yang memiliki tingkat kesukaran yang paling tinggi. Hal ini disebabkan mantra jenis ini hanya dapat dijangkau arti dan maknanya kalau diwahyukan oleh Tuhan. Tanpa sabda Tuhan mantra ini tidak mungkin dapat dipahami.
2.      Adyatmika Mantra, yaitu mantra yang memiliki tingkat kesukaran yang lebih rendah. Mantra ini dapat dicapai maknanya melalui proses pensucian diri. Orang yang rohaninya masih kotor, tidak mungkin dapat memahami arti dan fungsi jenis mantra ini.
3.      Pratyāksa Mantra, yaitu mantra yang lebih mudah dipahami. Untuk menjangkau makna mantra ini dapat hanya mengandalkan ketajaman pikiran dan indriya.
Disamping itu ada juga jenis mantra yang ditulis baik dalam buku, kitab, lontar yang disebut Varnātmaka Sabda, yang terdiri dari suku kata, kata ataupun kalimat. Sedangkan mantra yang diucapkan disebut Dhvanyātma Sabda, yang merupakan nada atau perwujudan dari pikiran melaui suara tertentu, yang dapat berupa suara saja atau kata-kata yang diucapkan ataupun dilagukan dan setiap macamnya dipergunakan sesuai dengan keperluan, kemampuan serta motif pelaksana.

D.     Cara mengucapkan Mantra

1.      Vāikari, yaitu mengucapkan mantra dengan mengeluarka suara dan dapat didengar oleh orang lain, kekuatan mantra yang diucapkan dengan cara ini akan mampu memecah guna tāmas (kelambanan), ketakutan yang ada pada diri seseorang. Cocok dipakai bagi para sadhaka pemula dan dapat menghancurkan energi negatif yang ada di sekitar pengucapnya.
2.      Upamsu, yaitu mantra yang diucapkan yang hanya didengar oleh orang yang mengucapkannya saja (berbisik-bisik), kekuatan mantra  yang diucapkan dengan teknik ini dapat memurnikan guna rājas (nafsu). Jika mantra ini diucapkan dengan cara ini juga dapat memberikan perlindungan (kāvaca) dari berbagai gangguan (lingkungan, energi negatif, roh jahat, dan sebagainya).
3.      Mānasika, yaitu mantra yang diucapkan dalam hati, bermeditasi pada jiwa dari mantra serta arti dari kata-kata suci tersebut tanpa menggerakkan lidah ataupun bibir. Kekuatan mantra ini akan dapat menumbuhkan kesadaran illahi pada diri yang mengucapkannya, sedangkan yang bermeditasi pada irama pernapasan dengan menggunakan mantra disebut Ajapajapa. 


E.      Kualitas Mantra

1.      Produktif, yaitu dipakai dalam rangka meningkatkan kesadaran illahi, semata-mata untuk memuliakan kebesaran Brahmandengan segala prabavaNya, sehingga muncul perasaan welas asih, cinta, dan pengabdian, terbebas dari ego kepemilikian dan nafsu, dipakai sebagai media untuk menyebrangkan sang jiwa melewati lautan samsara/penderitaan kelahiran-kematian.
2.      Protektif, yaitu kualitas mantra yang dipakai untuk kelangsungan hidup secara duniawi, memenuhi keinginan (kama), memperoleh artha, keturunan, kemuliaan, kemewahan, kesehatan, kewibawaan, kedudukan, dan sebagainya.
3.      Destruktif, kualitas mantra yang dipakai untuk kegiatan menundukkan lawan, menghancurkan penyakit, mencelakakan orang lain, termasuk ilmu hitam. (Sudarma, 2003: 164).
Terlepas dari hal tersebut di atas, sebuah mantra akan dapat memberikan manfaat maksimal (śākti, śiddhi, suci) baik kepada uyang mengucapkannya maupun orang lain dan lingkungan dalam bentuk vibrasi dipengaruhi oleh beberapa hal prinsip, yaitu:
1.      Śraddhā; keyakinan yang mendalam terhadap sebuah mantra yang dipakai media untuk merealisasikan tujuan tersebut. Tanpa keyakinan, sama halnya ketika sakit lalu pergi ke dokter dan minta diobati tetapi kita tidak yakin terhadap resep dan anjuran dokter tersebut, tentu kita tidak akan sembuh.
2.      Bhakti; perasaan hormat, rindu, cinta kasih, yang mendalam terhadap mantra tersebut, memperlakukan mantra itu seperti kita merawat diri sendiri, Dia adalah istri yang sesungguhnya yang dengan setia menyertai langkah kita. Tanpa bhakti mantra apapun akan menjadi bumerang buat kita. Kasih dan hormat pada mantra dengan keyakinan pada hasil yang dijanjikannya jauh lebih penting daripada sekedar pengulang-ulangan secara mekanis dengan pikiran ngelantur kemana-mana.
3.      Sadhāna, cepat atau lambatnya sebuah mantra memberikan manfaat kepada kita adalah karena Sadhāna (disiplin spiritual), Bagaimana mungkin mantra akan menjadi Śiddhi apalagi Śākti kalau hanya diucapkan seminggu sekali atau bahkan sebulan sekali, sementara kita setiap saat berhubungan dengan dunia maya yang senantiasa mengkontaminasi badan, emosi, dan jiwa kita. Lukakanlah  Sadhāna dengan konsisten  dan berkesinambungan. Tidak perlu tahu banyak mantra tetapi kita tidak paham terhadap arti, makna yang tersirat didalamnya, cukup satu mantra tetapi kita paham dan memiliki Sadhāna . saat ini, banyak orang tahu banyak jenis mantra tersebut, hal seperti itu tak ubahnya seperti tong kosong yang bunyinya nyaring tapi tidak memiliki kekuatan.
4.      Chānda; teknik pengucapan mantra sangat penting keberadaannya, karena jika sebuah mantra salah memberikan penekanan dan pemenggalan sesuai dengan Chānda atau guru laghu dan guru bhasanya, tentunya akan memiliki arti dan maksud yang berbeda. Mengenai irama itu sesuai dengan bakat suara masing-masing sadhaka.
5.      Kriya; kegiatan berupa pemujaan, baik luar maupun dalam dengan pengetahuan tentang arti esoterik dan eksoteriknya, ataupun pemujaan dalam semacam pengorbanan ke-akuan atau pembakaran segala keinginan. (Sudarma, 1998: 6).


F.      Penggunaan Mantra

Menurut waktu penggunaannya mantra dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:
1.      Nitya Karma Puja, yaitu pengucapan mantra yang dilaksanakan setiap hari secara rutin, misalnya seperti Puja Tri Sadhya, yang dilaksanakan setiap hari. Nitya Karma Puja ada dua jenis, yaitu:
a.       Sadhyā Vandanā atau Sadhyŏpāsanā, yaitu pemujaan yang dilakukan pada setiap pertemuan waktu, artinya doa dan pemujaan yang dipersembahkan kepada Tuhan, pada pertemuan waktu (sadhi) malam hari dengan pagi hari, tengah hari dan pertemuan antara sore hari dengan malam. Sadhyŏpāsanā harus dilakukan pada saat Sadhya yang tepat, agar mendapat manfaat yang sebesar-besarnya berupa Brahma Teja (Pencerahan Brahman), karena pada tiap-tiap Sadhya  itu terdapat perwujudan kekuatan khusus yang akan lenyap apabila Sadhya tersebut berlalu. Kekuatan-kekuatan khusus tersebut dapat memotong rantai sasara masa lalu dan mengubah seluruh situasi masa lalu seseorang, serta memberikan kemurnian dan keberhasilan setiap usaha, dan menjadikannya penuh daya serta ketenangan. Pelaksanannya Sadhya mutlak diperlukan bagi seseorang yang menelusuri jalan kebenaran, karena pelaksanaan Sadhya merupakan kombinasi dari Japa Upāsana, Svadhyāya, Meditasi, Konsentrasi, Āsana,, Praāyāma, dan lain sebagainya. Pelaksanaan Sadhyŏpāsanā bersifat wajib, perlu dipelajari tata tertib pelaksanaannya agar memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya; karena kalau tidak dilaksanakan akan menimbulkan Pratyavaya Doa atau doda karena lalai, dan jelas akan kehilangan Brahmma Teja atau kecemerlangan spiritual. Referensi bacaan: Chandogya Upaniad II.24, I.24, III.16, I.7; Brahma Upaniad; Maitreya Upaniad II.13-14; Jabalŏpaniad. 12,13, dan sebagainya.
b.      Japa atau Namasmarana, yaitu pemujaan yang dilakukan untuk mengagungkan nama-nama suci Tuhan dengan cara menyebut secara berulang-ulang. Dapat pula dibantu dengan mala/rudraksa/ruas jari tangan atau menuliskannya di buku  secara terus-menerus/berulang-ulang.
2.      Naimitika Karma Puja, yaitu pengucapan mantra yang dilakukan secara insidential pada waktu-waktu tertentu saja. Misalnya: mantra yang diucapkan ketika upacara abhiseka, peletakan batu pertama, dalam berbagai samskāra, Purnama, Tilem, dan sebagainya. Dalam pelaksanaannya Naimitika Karma Puja ini ada yang berdasarkan Panca Wara, Sapta Wara, Wuku, Sasih/Bulan, Varsa/tahun, dan berbagai kejadian yang dianggap penting, seperti Gerhana Matahari, Gerhana Bulan, Wabah, tempat angker, dan sebagainya.


G.     Beberapa Contoh Mantra Penting

·        Guru Pūja:
Om guru brahmā guru viṣṇu, guru deva maheśvara, guru śaksat param brahma,  tasmei śri guruve nama (Guru Sotra 14)
(Ya Tuhan kami memujaMu sebagai  Brahma-Viṣṇu- Maheśvara yang merupakan guru semesta alam, demikian pula semua guru kerohanian yang sesungguhnya merupakan perwujudanMu sendiri. Hamba bersembah sujud di kaki padmaMu.)
·        Mantra untuk memohon kesejahteraan:
Om ayur dehi dhānam dehi, Vidyam dehi maheśvāri, Samstamakhilam dehi, Dehime pārameśvāri
(Ya Tuhan berikan kami umur panjang, berikan kami kesejahteraan, berikan kami pengetahuan suci Oh Paramesvari, berikan kami segala-galanya. Oh Paramesvari limpahkan kami sebanyak-banyaknya)
·        Mahāmtyunjaya Mantra:
Om trayam bhakam yajāmahe, sugandhim puṣṭi vardhanam, urvārukam iva bandhanāt, mtyor mukya māmtāt. (gveda VII. 59. 12)
(Kami memuja Hyang Rudra (Trayambhaka) yang menyebarkan keharuman dan memperbanyak makanan. Semoga Ia melepaskan kami, seperti buah mentimun dari batangnya, dari kematian dan bukan dari kekekalan.)
·        Mantra Mohon Bimbingan Spiritual:
Om astao mā sadgamaya, Tāmaso mā jyotir gamaya, mtyor mā amtam gamaya ( Bhad Arayaka  Upaniad I. 3. 28)
(Ya Tuhan. Bimbinglah kami dari yang tidak benar menuju yang benar. Bimbinglah kami dari kegelapan (pikiran) menuju cahaya (pengetahuan) yang terang. Bimbing kami dari kematian menuju kehidupan yang abadi.)
·        Mantra untuk para karyawan/pengusaha/wiraswasta:
Om namastestu mahāmāye śrīpīthe sura pūjite, śakha chakra gadā haste śrī mahā lakmi namostute.
(Lindungilah kami selalu Oh Tuhan, pemberi rejeki dan kesejahteraan (dalam bentukMu sebagai dewi Laksmi), sehingga kami tidak kekurangan sesuatu, bahkandapat membantu mereka yang kekurangan)
·        Doa memohon kebijaksanaan;
Om bhadram karnebhih snuyāma deva, bhadram pasyemaksabhir yajatrah, shirair anggais tustusvamas, tanubhir vyasemahi deva hitam yad ayuh (Yajurveda. 25.21)
(Ya Tuhan Yang Maha Esa, anugrahkanlah karuniaMu supaya kami dapat mendengar yang baik dari telinga kami, selalu melihat yang baik dengan mata kami, berikanlah kekuatan badan yang sehat supaya kami selalu dapat memujaMu dan sesuai dengan karma kami  mendapatkan hidup yang lengkap dan tidak meninggal sebelum waktunya.)
Om drte drmha māmitrasya mā, caksusa sarvani bhūtani samīksantam, Mitrasya ham caksusa sarvani bhutani , samikse mitrasya caksusa samīksamahe (Yajurveda, V. 36. 18)
(Ya Tuhan penghancur duka, berikanlah karunia supaya kami jauh dari iri hati, dan selalu menjadi sahabat serta semua menganggap kami sahabatnya. Dengan keinginan ini kami selalu mendapatkan kebahagiaan sesuai dengan kebenaran. Demikianlah, kami semua menganggap orang lain sebagai teman, baik waktu untung atau rugi, suka maupun duka kita selalu merasa sama )
·        Doa Mohon keselamatan:
Om abhayam nah karty antariksam, abhayam dyava prathivi ubhe ima, Abhayam paścadābhyam, purastaduttarada dharadābhyam no astu (Yajurveda, XIX. 5.6)
(Ya Tuhan, semoga antarikasa memberikan keamanan dan kenyamanan kepada kami, semoga kami mendapat keamanan dan kenyamanan dari belakang, dari depan, dari tempat  tinggi, atas dan dari bawah. Semoga sungai dan air memberikan kedamaian. )
·        Doa Pembukaan Rapat:
Om sam gacchadhvam sam vadadhvam, Sam vo manasi janatam, Deva bhagam yatha purve samjanana upasate (2).
Samano mantra samitih samani, Samanam manah saha cittam esam, Samanam mantram abhi mantraye vah, Samanena vo hasiva juhomi (3).
Samani va akutih samana hrdayani vah, Samanam astu vo mano yatha vah susahasati (4).
Ya Tuhan Yang Maha Esa, semogalah pertemuan dan rapat ini mencapai satu kesepakatan seperti halnya para Deva bersama-sama menikmati persembahan (2).
Semoga tercapai tujuan bersama, kesepakatan bersama, satu dalam pikiran menuju satu tujuan (3).
Ya Tuhan Yang Maha Esa, Engkau canangkan satu tujuan, bersama kami sekalin, marilah adakan pemujaan dengan persembahan bersama, agar tujuan kita satu dan seia sekata (4). (Rgveda X.191. 2-3-4)
·        Doa Mengunjungi Orang Sakit:
Om sarve vighna vinasanam, sarva klesa vinasanam, Sarva papa pataka vinasanam
Vyadi marana punah citram , Dirghayur astu ya namah svaha (Puja Vrtti Walaka. 10)
(Ya Tuhan, semoga semua halangan lenyap, semua penderitaan lenyap, semua dosa dan noda lenyap, semoga semua penyakit dan wabah musnah. dan semoga Engkau melimpahkan panjang umur. )
·        Doa Mengunjungi orang meninggal:
Om vāyur anilam āmtam athedam bhasmāntam sāriram, Om klibe smāra krtam smāra klibe smāra krtam smara. (Yajurveda, 40.15)
(Wahai jiwa, badanmu yang terbuat dari pañca tattva yang telah diperabukan dan  semoga Ātmamu masuk dalam moksa. Wahai jiwa ucapkanlah Om.  Wahai jiwa ucapkalah Om. Waha jiwa ucapkanlah Om)
·        Doa magebagan:
Om svargantu, mokśantu, sunyantu, murchantu sarva pitarah, Om ksāma sampurna ya namah svadah. (Pitra Stava)
(Ya Tuhan, semoga yang meninggal Atmanya menuju Sorga, mencapai pembebasan, ketenangan dan tiada terlahir kembali
Ya Tuhan, ampunilah dosanya, semoga menjadi sempurna atas karuniamu)
·        Doa mengunjungi selamatan rumah:
Om vastoshpate prati janihy, asman svaveso anamivo bhava nah, yat tvemahe prati tanno jusasva, samno bhava dvipāde sam catuspāde (Par. Grh, 3.4. 14)
(Ya Tuhan Maha pelindung, lindungilah tempat ini,jadikanlah tempat ini penuh keindahan, jagalah selamanya, sehingga semua penghuninya megalami rasa penuh bahagia, dan selalu mendapat anugrahMu )
·        Doa kelahiran anak:
Om bālak tvam ayusman varcasvi tejasvi srīman bhuyah (Sangkara Viddhi)
(Ya Tuhan semoga Engkau melimpahkan panjang umur kepada anak ini, semoga ia memiliki pengetahuan, menjadi dermawan, mempunyai cahaya, dan memiliki kekayaan.)
·        Doa mengendarai  berbagai kendaraan:
Om sutramānam pthivim dyām anehasam, susarmanamaditim supranitim, daivim navam svaritam anagasam, artravantim a ruhema svastaye (gveda, X.63.10).
(Ya Tuhan, yang memberi perlindungan, jadikanlah bumi dan langit yang tiada tandingan menyelamatkan kami. Semoga dengan kendaraan yang sempurna ini kami dapat mengarungi langit, bumi, dan lautan dengan selamat dan bahagia )
·        Pūra Pūja:
Om pūram  adah pūram idam
pūrat pūram  udacyate
pūrasya pūramādhaya
pūram iva vasisyate.

Om śarve bhavantu sukhina
śarve śāntu niramāya
śarve badrani paśyantu
Mā kaścit duhkha bhag bhavet

(Ya Tuhan mahasempurna, hamba yang tiada sempurna ini memujaMu, semoga itu menjadi sempurna, yang ini menjadi sempurna, karena kesempurnaan hanya dapat muncul dari sempurna. Semoga yang tidak sempurna menjadi sempurna, semoga yang ada hanyalah kesempurnaan atas karuniaMu.)


Semoga semuanya  selalu berbahagia
Semoga selalu dalam keadaan sehat
Semoga semuanya sejahtera
Semoga tidak seorangpun yang menderita atas karuniaMu. (Anand  Krishna.1992)

Om Śānti Śānti Śānti Om


 Sumber: dharmavada.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar